بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Akan kuceritakan kepadamu tantang hikayat sebuah nama,
yang tak asing tapi mulai sering lupa kita sapa..
Dialah perempuan yang pertama kali mengajarkan kita
kata-kata, bahasa, nada dan apa saja yang membuat kita bahagia..
Dialah perempuan yang pertama kali mengajarimu memakai sepatu atau memotong kuku..
Dialah perempuan yang suatu hari akan melihat kita melangkah pergi,
dengan sepatu yang lain,
meninggalkannya sendiri,
menangis pilu bersama denyit engsel pintu..
Dialah Ibumu..
Nama suci yang diizinkan Tuhan untuk pertama kali kita ucapkan, jauh sebelum nama-namaNya.
Nama yang merangkum cinta dari seluruh sejarah manusia.
Perempuan yang tak pernah di cemburui Tuhan untuk di cintai manusia jauh mendahuluiNya,
Sebab mencintainya, juga berarti mencintai Nya..
Dimanakah dia sekarang?
Apa kabar dia Sekarang?
Bagaimana perasaannya?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah kau tanyakan untuknya.
Baginya, pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada untukmu.
Di pasar, didapur, dikator, dijalan, di terminal, di tempat suci, dimanapun…
Baginya, segala tentangmu adalah do’a: Tuhan semoga anakku baik-baik saja!
Seburuk apapun kau memperlakukannya,
Ibu akan tetap bangunpagi untuk sembahyang,
Mendo’akan segala yang terbaik untukmu..
Dialah Ibu,
Perempuan yang selalu menatap kepergian kita dengan cemas,
Menunggu kepulangan kita dengan perasaan was-was..
Dialah perempuan yang barang kali melupakan sakitnya sendiri untuk merawat sakit kita yang selalu terlalu manja!
Dialah ibumu,
Perempuan suci yang telah dan akan selalu menyayangimu seperti laut melindungi terumbu.
Meskipun terkadang kau merasa tak bersamanya, cintanya selalu mengalir di seluruh jalan dan darahmu. Hingga habis usiamu.
Ya, inilah hikayat sebuah nama,
Tempat segala cinta bermula dan bermuara..
Tuhan begitu menyayangi setiap ibu, sehingga jika kita mendapatkan restunya,
Tuhan berjanji merestuimu: lapangkanlah segala jalan kebaikanmu, terbukalah semua pintu surga untukmu.
Tetapi apabila ibumu menangis karenamu dan kesedihan menetes sampai kehatinya, sebagian malaikat akan mendo’akan butiran-butiran airmatanya, hingga menjadi Kristal cahaya yang akan membuat sebagian malaikat lainnya merasa silau dan marah kepadamu!
Maka tersebab kemarahan para malaikat adalah kemarahan yang suci:
Tuhan tak melarang mereka tatkala menutup seluruh pintu kebaikan untukmu,
Mengugurkan semua pahala untuk menutup pintu-pintu sora untukmu.
Hingga ibu memaafkanmu!!
Kenangkanlah, ibu selalu mencintai kita seolah tak ada hari esok, sementara kita terus berjanji akan membahagiakannya besok atau nanti, jika sudah selesai dengan diri kita sendiri.
Tapi kapan akan terjadi?
Entahlah tidak ada yang tahu. Sementara ibu kita terus menyayangi dan mencintai kita dengan luar biasa, meski dengan cara-cara sederhana.
Kita? Entahlah, Barangkali takdir kedua kita sebagai anak adalah (mengaku) mencintai ibu kita, dengan pembuktian-pembuktian yang selalu tertunda.
Demikianlah hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi mulai sering lupa kita sapa: IBU.
Perempuan pertama kali mengajarkan kita dua kata sederhana,
“terimakasih” dan “maaf”, untuk tak pernah kita ungkpakan dua kata sederhana itu kepadanya.
Barangkali ibu kita memang bukan ibu terbaik di dunia.
Sebab kita bukan anak terbaik didunia.
Akankah tiba saatnya kita mengenangnya hanya sebatas nama, sambil mengumpulkan satu-per satu helai-helai rambutnya yang rontok dan keperakan, dari baju hangat peninggalannya?
Akankah tiba saatnya bagi kita ketika semuanya sudah terlambat sementara sesal tak sanggup mengembalikan lagi senyumnya, lembut matanya?
Semoga kita belum terlambat!
—> di Tulis ulang dari Apologia Sebuah Nama (karya Fahd Jibran)
And I Love U so mom,.as always