Posted by: yusnitahakiem | March 25, 2015

Ketika Si Kecil Belajar Berbisnis

“Ayah… ayo, kita beli jajan, aku punya uang buanyaaak…. “, kata Kak Ray suatu hari sepulang sekolah, sambil menunjukkan 2 lembar uang dua ribuan ke ayahnya. “Lho, Mas Ray dapat uang dari mana?” Ayah sedikit terkaget, karena memang selama ini kami tak pernah membiasakan memberikan uang saku mengingat di sekolah full day tempat anak-anak kami belajar sudah menyediakan snack dan makan siang.. “Aku habis jualan lego, Yah… ” Sontak ayah semakin kaget lagi. “Memang dijual berapa sama Ray?” tanya Ayah. “Dua ribuan, Yah.. “. Haha.. Ayah mau marah juga tak tega. Ketawa juga gimana. Dua lego yang dijualnya itu baru dibelikan Ayah beberapa hari sebelumnya dengan harga 15.000 rupiah/buah dan kini dijual 2.ooo rupiah oleh anak lelaki kesayangannya.. 😀 Read More…

Posted by: yusnitahakiem | May 13, 2013

Pengunjung Spesial Rumah Baca

Dialog sederhana saya dengan tiga bersaudara peminta-minta.. Alhamdulillah, akhirnya mereka mau juga bergabung di rumah baca 🙂

Rumah Baca Gang Masjid (RBGM)

Tiga anak itu sering saya lihat di sekitar masjid sudah cukup lama. Sering pula saya mengamati mereka berlarian, bercanda dan beristirahat di bawah pohon rindang depan masjid. Penampilan mereka sederhana. Pakaian lusuh membalut tubuh kecil mereka. Anak yang paling besar, laki-laki, sepertinya agak tertutup. Tak terlalu peduli dengan orang di sekitar. Ia biasa ngamen di alun-alun. Tanpa alat. Hanya menyanyi sambil bertepuk. Atau terkadang ia menyodorkan wadah dari bekas gelas air mineral saja. Sedangkan adik-adiknya, (satu perempuan dan satu laki-laki), biasa mangkal di masjid agung. Biasanya, mereka meminta-minta pada jamaah dan orang-orang di area masjid.

Sore itu, saya mendekati mereka yang sedang beristirahat. Rasa penasaran mendorong saya untuk berbincang dan mengenal mereka lebih jauh.

View original post 908 more words

Posted by: yusnitahakiem | March 26, 2013

Jawaban Atas Pertanyaan Itu…

Orang2 yang merintis jalan perjuangan adalah mereka yang merelakan kenikmatan hidupnya demi apa yang menjadi keyakinannya. Bukan karena mereka tidak pernah berhasrat pada kenikmatan, melainkan karena kenikmatan itu menjadi kecil dan tidak ada artinya dibandingkan dengan cita-cita besar yang terpendam dalam jiwa..

M. Fauzil Adhim – Positive parenting

Posted by: yusnitahakiem | November 26, 2012

Apologia Sebuah Nama

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Akan kuceritakan kepadamu tantang hikayat sebuah nama,
yang tak asing tapi mulai sering lupa kita sapa..
Dialah perempuan yang pertama kali mengajarkan kita
kata-kata, bahasa, nada dan apa saja yang membuat kita bahagia..
Dialah perempuan yang pertama kali mengajarimu memakai sepatu atau memotong kuku..

Dialah perempuan yang suatu hari akan melihat kita melangkah pergi,
dengan sepatu yang lain,
meninggalkannya sendiri,
menangis pilu bersama denyit engsel pintu..

Dialah Ibumu..
Nama suci yang diizinkan Tuhan untuk pertama kali kita ucapkan, jauh sebelum nama-namaNya.
Nama yang merangkum cinta dari seluruh sejarah manusia.
Perempuan yang tak pernah di cemburui Tuhan untuk di cintai manusia jauh mendahuluiNya,
Sebab mencintainya, juga berarti mencintai Nya..

Dimanakah dia sekarang?
Apa kabar dia Sekarang?
Bagaimana perasaannya?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah kau tanyakan untuknya.
Baginya, pertanyaan-pertanyaan itu akan selalu ada untukmu.
Di pasar, didapur, dikator, dijalan, di terminal, di tempat suci, dimanapun…
Baginya, segala tentangmu adalah do’a: Tuhan semoga anakku baik-baik saja!

Seburuk apapun kau memperlakukannya,
Ibu akan tetap bangunpagi untuk sembahyang,
Mendo’akan segala yang terbaik untukmu..

Dialah Ibu,
Perempuan yang selalu menatap kepergian kita dengan cemas,
Menunggu kepulangan kita dengan perasaan was-was..
Dialah perempuan yang barang kali melupakan sakitnya sendiri untuk merawat sakit kita yang selalu terlalu manja!

Dialah ibumu,
Perempuan suci yang telah dan akan selalu menyayangimu seperti laut melindungi terumbu.
Meskipun terkadang kau merasa tak bersamanya, cintanya selalu mengalir di seluruh jalan dan darahmu. Hingga habis usiamu.

Ya, inilah hikayat sebuah nama,
Tempat segala cinta bermula dan bermuara..

Tuhan begitu menyayangi setiap ibu, sehingga jika kita mendapatkan restunya,
Tuhan berjanji merestuimu: lapangkanlah segala jalan kebaikanmu, terbukalah semua pintu surga untukmu.

Tetapi apabila ibumu menangis karenamu dan kesedihan menetes sampai kehatinya, sebagian malaikat akan mendo’akan butiran-butiran airmatanya, hingga menjadi Kristal cahaya yang akan membuat sebagian malaikat lainnya merasa silau dan marah kepadamu!

Maka tersebab kemarahan para malaikat adalah kemarahan yang suci:
Tuhan tak melarang mereka tatkala menutup seluruh pintu kebaikan untukmu,
Mengugurkan semua pahala untuk menutup pintu-pintu sora untukmu.
Hingga ibu memaafkanmu!!

Kenangkanlah, ibu selalu mencintai kita seolah tak ada hari esok, sementara kita terus berjanji akan membahagiakannya besok atau nanti, jika sudah selesai dengan diri kita sendiri.

Tapi kapan akan terjadi?

Entahlah tidak ada yang tahu. Sementara ibu kita terus menyayangi dan mencintai kita dengan luar biasa, meski dengan cara-cara sederhana.
Kita? Entahlah, Barangkali takdir kedua kita sebagai anak adalah (mengaku) mencintai ibu kita, dengan pembuktian-pembuktian yang selalu tertunda.

Demikianlah hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi mulai sering lupa kita sapa: IBU.
Perempuan pertama kali mengajarkan kita dua kata sederhana,
“terimakasih” dan “maaf”, untuk tak pernah kita ungkpakan dua kata sederhana itu kepadanya.

Barangkali ibu kita memang bukan ibu terbaik di dunia.
Sebab kita bukan anak terbaik didunia.

Akankah tiba saatnya kita mengenangnya hanya sebatas nama, sambil mengumpulkan satu-per satu helai-helai rambutnya yang rontok dan keperakan, dari baju hangat peninggalannya?
Akankah tiba saatnya bagi kita ketika semuanya sudah terlambat sementara sesal tak sanggup mengembalikan lagi senyumnya, lembut matanya?

Semoga kita belum terlambat!

—> di Tulis ulang dari Apologia Sebuah Nama (karya Fahd Jibran)

And I Love U so mom,.as always

 

Posted by: yusnitahakiem | September 21, 2012

Hanya Bermodal CINTA..^_^

Rumah Baca sudah semakin ramai. Setiap harinya kurang lebih ada 10 hingga 20 anak yang hadir untuk belajar bersama. Begitu adzan maghrib berkumandang, anak-anak mulai berdatangan. Mereka berteriak dengan penuh semangat mengucap salam, kemudian menaruh perlengkapan belajarnya di dalam. Segera setelah itu mereka menghambur ke masjid untuk mengikuti sholat berjamaah. Mereka sudah paham, bahwa bimbingan belajar di rumah baca ini tidak gratis sama sekali. Namun wajib dibayar dengan mengikuti sholat berjamaah 🙂 .

Read More…

Posted by: yusnitahakiem | August 7, 2012

Asyiknya Mengelola Rumah Baca

Hmmm..ternyata cukup lama saya absen menulis. Kesibukan  mengurus pekerjaan, anak-anak, dan rumah baca sepertinya hal yang cukup klise untuk dijadikan alasan. Malas…mungkin itu kata-kata yang tepat.. 🙂

Tetapi memang Rumah Baca yang baru saja saya rintis bersama suami menyita cukup banyak waktu. Memulai hal baru selalu saja bukan hal yang mudah. Tetapi semua ini sudah terangkum pada niat dan komitmen awal kami. Berani memulai, berarti harus berani pula menganggung segala resikonya. Toh ini semua juga berimbas pada ketenangan hati. Bisa berbagi dan bercanda dengan anak-anak merupakan momen yang mampu menghapus kepenatan. Read More…

Posted by: yusnitahakiem | July 7, 2012

Liburan Paling Ditunggu…Rumah Yang Ti..

Suasana pagi di Dsn Patoman, Ds. Bendungan, Kec. Gondang, Kab.Tulungagung

Liburan sekolah sudah hampir usai. Tinggal beberapa hari lagi. Meskipun saya dan suami tidak libur panjang, Alhamdulillah janji pada anak-anak untuk berlibur ke rumah Yang Ti sudah tertunaikan. Read More…

Posted by: yusnitahakiem | July 4, 2012

Cerita Marsha dan Gambarnya

Malam itu kami sekeluarga berkumpul di ruang keluarga yang merangkap ruang baca 🙂 , ruangan favorit kami untuk berbagi cerita. Saya dan  Ayah sama-sama asyik membaca. Sesekali kami mendiskusikan apa yang barusan kami baca. Rayhan sibuk bermain sambil berbicara sendiri. Read More…

Posted by: yusnitahakiem | June 25, 2012

Kekuatan Hati

Kucoba menggapai secercah cahaya

Tak peduli halang rintang datang menyapa

Ku takkan menyerah

Kan kurengkuh tanganMu yang Agung dengan berbagai cara

Setetes demi setetes bulir bening mengalir

Meneduhi hati

Mencoba bertahan

Entah sampai kapan

Posted by: yusnitahakiem | June 25, 2012

Bila Saat Tiba

Ketika tiba saatnya nanti

Bukan ketakutan

Bukan pula kesedihan

Yang kuingin hanya sebentuk senyuman…

Older Posts »

Categories